Senin, 03 Juni 2013

Hati Yang Berani



Alkisah di sebuah peternakan terdapat seekor tikus kecil. Ia hidup dalam rumah yang sama dengan seekor kucing tua yang besar. Tikus tersebut sangat takut terhadap kucing besar tersebut, sehingga ia selalu bersembunyi dan enggan untuk keluar mencari makan. Hingga suatu hari ia berkata, “Akan sangat menyenangkan jika tidak ada kucing besar itu di rumah ini, yang membuatku takut setiap saat. Seandainya saja aku ini seorang kucing.” 
Seorang Peri yang mendengar perkataan tikus itu merasa kasihan dan mengubah tikus kecil itu menjadi seekor kucing besar.
Saat awal tikus yang telah menjadi kucing itu merasa sangat bahagia, ia tak merasa ketakutan saat berhadapan dengan kucing besar tua itu. Sampai akhirnya dia betremu seekor anjing gembala yang mengejar-ngejarnya. Lalu tikus itu berkata, “Aahh.. ternyata tidak menyenangkan menjadi seekor kucing, aku selalu merasa takut akan anjing itu. Seandainya saja aku ini seekor anjing”.
Sekali lagi Peri tersebut mendengar perkataan tikus yang telah menjadi kucing besar, dan mengubahnya menjadi seekor anjing yang besar.
Saat awal tikus yang kini telah menjadi anjing itu sangat bahagia, ia bebas berjalan-jalan di seluruh kawasan peternakan itu. Hingga suatu hari ia mendengar lolongan serigala dari hutan di belakang peternakan itu. Seketika itu ia langsung menjerit, “Aku takut setiap kali mendengar lolongan serigala itu. Ternyata tidak aman menjadi seekor anjing penjaga, tentu serigala itu akan menyerangku sebagai anjing penjaga lalu kemudian menyerang ternak. Seandainya saja aku ini seekor serigala yang tangguh, tentu aku tidak akan takut pada apapun.”
Lagi Peri tersebut mendengar permohonan tikus yang telah menjadi anjing penjaga besar, dan mengubahnya menjadi seekor serigala besar yang tangguh.
Suatu hari, para gembala dan pemilik peternakan yang merasa terganggu dengan serigala memutuskan untuk memburu serigala hutan tersebut. Mereka mengejar serigala tersebut dengan membawa senapan dan menyebar jerat di berbagai tempat. Dan sekali lagi tikus yang telah menjadi serigala itu berlari pada Peri.
“Apa lagi sekarang ?” tanya si Peri. “Ubah aku menjadi manusia, maka tidak ada yang akan membuat aku takut.”
“Mengubahmu menjadi manusia ?” bentak Peri. “Tidak, aku tidak akan melakukannya. Seorang manusia harus memiliki hati yang berani. Sedangkan engkau hanya memiliki hati seekor tikus, jadi kau akan kembali dan akan tetap menjadi seekor tikus”. Setelah itu tikus kembali menjadi tikus kecil dan berlari-lari kembali ke rumahnya yang lama.
Kadang tanpa kita sadari sering kita bersikap seperti tikus tersebut. Saat permasalahan hadir, terlihat lebih besar dan menakutkan, membuat kita merasa begitu ketakutan dan merasa tidak mampu menghadapi permasalahan tersebut. Kita mulai mengeluh dan bersungut-sungut akan kondisi kita saat ini, mengharapkan seandainya saja kita memiliki kekayaan, kemampuan ataupun kesempatan yang lebih dari yang kita miliki saat ini. Kita mengharapkan menjadi orang lain agar tidak perlu takut ataupun kuatir menghadapi permasalahan tersebut.
Sebagai apapun kita berperan, permaslahan akan selalu ada. Sebagai individu yang menjadi bagian masyarakat, sebagai orang tua ataupun mertua, sebgai suami ataupun istri, sebagai anak ataupun menantu, sebagai atasan maupun bawahan.
Permasalahan akan tampak begitu besar dan menakutkan ketika kita menganggapnya sebagai ancaman yang membahagiakan hidup kita. Permasalahan akan terasa berat untuk kita hadapi, ketika kita melihatnya sebagai beban yang menyulitkan langkah-langkah hidup kita.
Namun disisi lain, ketika kita melihat permasalahan merupakan kesempatan untuk kita semakin kuat, mengembangkan setiap talenta kita, untuk kita semakin matang dalam bersikap. Kita akan melihat permasalahan hanyalah sebuah proses belajar yang haris kita lewati, baik sekarang ataupun nanti.
Permasalahan akan selalu ada, namun kita tetap memiliki pilihan. Akan melihatnya sebagai ancaman dan beban untuk kita hindari atau sebuah kesempatan dan tantangan untuk kita selesaikan.
         
Sumber : Majalah Kemala Bayangkari
Edisi 131, Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar