Alkisah
di sebuah peternakan terdapat seekor tikus kecil. Ia hidup dalam rumah yang
sama dengan seekor kucing tua yang besar. Tikus tersebut sangat takut terhadap
kucing besar tersebut, sehingga ia selalu bersembunyi dan enggan untuk keluar
mencari makan. Hingga suatu hari ia berkata, “Akan sangat menyenangkan jika
tidak ada kucing besar itu di rumah ini, yang membuatku takut setiap saat.
Seandainya saja aku ini seorang kucing.”
Seorang
Peri yang mendengar perkataan tikus itu merasa kasihan dan mengubah tikus kecil
itu menjadi seekor kucing besar.
Saat
awal tikus yang telah menjadi kucing itu merasa sangat bahagia, ia tak merasa
ketakutan saat berhadapan dengan kucing besar tua itu. Sampai akhirnya dia
betremu seekor anjing gembala yang mengejar-ngejarnya. Lalu tikus itu berkata,
“Aahh.. ternyata tidak menyenangkan menjadi seekor kucing, aku selalu merasa
takut akan anjing itu. Seandainya saja aku ini seekor anjing”.
Sekali
lagi Peri tersebut mendengar perkataan tikus yang telah menjadi kucing besar,
dan mengubahnya menjadi seekor anjing yang besar.
Saat
awal tikus yang kini telah menjadi anjing itu sangat bahagia, ia bebas
berjalan-jalan di seluruh kawasan peternakan itu. Hingga suatu hari ia
mendengar lolongan serigala dari hutan di belakang peternakan itu. Seketika itu
ia langsung menjerit, “Aku takut setiap kali mendengar lolongan serigala itu.
Ternyata tidak aman menjadi seekor anjing penjaga, tentu serigala itu akan
menyerangku sebagai anjing penjaga lalu kemudian menyerang ternak. Seandainya
saja aku ini seekor serigala yang tangguh, tentu aku tidak akan takut pada
apapun.”
Lagi
Peri tersebut mendengar permohonan tikus yang telah menjadi anjing penjaga
besar, dan mengubahnya menjadi seekor serigala besar yang tangguh.
Suatu
hari, para gembala dan pemilik peternakan yang merasa terganggu dengan serigala
memutuskan untuk memburu serigala hutan tersebut. Mereka mengejar serigala
tersebut dengan membawa senapan dan menyebar jerat di berbagai tempat. Dan
sekali lagi tikus yang telah menjadi serigala itu berlari pada Peri.
“Apa
lagi sekarang ?” tanya si Peri. “Ubah aku menjadi manusia, maka tidak ada yang
akan membuat aku takut.”
“Mengubahmu
menjadi manusia ?” bentak Peri. “Tidak, aku tidak akan melakukannya. Seorang manusia harus memiliki hati yang berani.
Sedangkan engkau hanya memiliki hati seekor tikus, jadi kau akan kembali dan
akan tetap menjadi seekor tikus”. Setelah itu tikus kembali menjadi tikus kecil
dan berlari-lari kembali ke rumahnya yang lama.
Kadang
tanpa kita sadari sering kita bersikap seperti tikus tersebut. Saat
permasalahan hadir, terlihat lebih besar dan menakutkan, membuat kita merasa
begitu ketakutan dan merasa tidak mampu menghadapi permasalahan tersebut. Kita
mulai mengeluh dan bersungut-sungut akan kondisi kita saat ini, mengharapkan
seandainya saja kita memiliki kekayaan, kemampuan ataupun kesempatan yang lebih
dari yang kita miliki saat ini. Kita mengharapkan menjadi orang lain agar tidak
perlu takut ataupun kuatir menghadapi permasalahan tersebut.
Sebagai
apapun kita berperan, permaslahan akan selalu ada. Sebagai individu yang
menjadi bagian masyarakat, sebagai orang tua ataupun mertua, sebgai suami
ataupun istri, sebagai anak ataupun menantu, sebagai atasan maupun bawahan.
Permasalahan
akan tampak begitu besar dan menakutkan ketika kita menganggapnya sebagai
ancaman yang membahagiakan hidup kita. Permasalahan akan terasa berat untuk
kita hadapi, ketika kita melihatnya sebagai beban yang menyulitkan
langkah-langkah hidup kita.
Namun
disisi lain, ketika kita melihat permasalahan merupakan kesempatan untuk kita
semakin kuat, mengembangkan setiap talenta kita, untuk kita semakin matang
dalam bersikap. Kita akan melihat permasalahan hanyalah sebuah proses belajar
yang haris kita lewati, baik sekarang ataupun nanti.
Permasalahan
akan selalu ada, namun kita tetap memiliki pilihan. Akan melihatnya sebagai
ancaman dan beban untuk kita hindari atau sebuah kesempatan dan tantangan untuk
kita selesaikan.
Sumber : Majalah
Kemala Bayangkari
Edisi
131, Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar